Beranda > Berita > Tak Mudah Mencontoh Lembaga Tabung Haji

Tak Mudah Mencontoh Lembaga Tabung Haji

Jakarta(Pinmas)–Upaya membentuk lembaga pengelolaan keuangan haji harus diperkuat dengan diawali regulasi, karena jika melihat kondisi saat ini tak mudah menyontoh pengelolaan dana haji pada Lembaga Tabung Haji Malaysia (LTHM).

Ada perbedaan mendasar antara pemerintah Malaysia dan Indonesia, kata Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama (Kemenag), Slamet Riyanto di Jakarta, Kamis (24/3) sore.

Sebelumnya Slamet yang didampingi sejumlah stafnya menerima delegasi LTHM. Ia mengatakan dari segi regulasi, aturan-aturan pemerintah Malaysia memang memperbolehkan dan memberikan wewenang penuh LTHM untuk mengelola dana haji.

Bahkan, pemerintah Malaysia memberikan jaminan dan garansi penuh jika investasi yang dilakukan lembaga itu collapse. “Dari aturan saja beda tak bisa disamakan,” kata dia

Karenanya, ia menjelaskan, yang perlu dilakukan adalah mewujudkan regulasi tersebut. Rancangan undang-undang tentang Pengelolaan Keuangan Haji yang saat ini dikaji pemerintah, tidak menutup kemungkinan akan mengarah ke lembaga serupa di negeri jiran itu. Meski diakui, pembahasan RUU itu
nantinya akan mengalami proses panjang.

“Tidak semudah itu, karena hambatan-hambatan politik,” ia menjelaskan.

Namun, lanjut Slamet, pemerintah masih mendalami berbagai kemungkinan dengan mempertimbangan berbagai aspek. Pada prinsipnya, pemerintah berkeinginan memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia yang hendak menunaikan haji.

“Ini amanat, tidak bisa sembarangan, makanya pemerintah berhati-hati,” katanya.

enior General Manager (Haj) Lembaga Tabung Haji, Malaysia, Dato Syed Saleh Syed Abdul Rahman, mengemukakan LTHM sangat efektif memberikan kemudahan bagi warga Muslim Malaysia. Terutama bagi mereka yang hendak pergi haji.

Sebab, LTHM merupakan badan investasi bagi tiap Muslim Malaysia. Mekanisme investasi yangdigunakan, tiap Muslim membuka `account` tabungan di LTHM.

“Bagi mereka yang hendak berhaji, wajib dan tinggal mendaftar melalui LTHM,” kata dia

Dato mengatakan dari hasil keuntungan investasi yang tiap tahunnya mencapai 600 juta US Dollar (5. 259 000.000.000 triliun rupiah/ dengan kurs 1 US dollar = Rp8.765), LTHM memberikan subsidi kepada calon jamaah haji separuh dari BPIH yang wajib dibayar mereka yaitu 9980 ringgit atau kurang lebih senilai Rp 29.940.000.

“Sebagian saja (subsidi dari hasil investasi LTHM), sebagian dibayar oleh jamaah,” kata dia

Dato mengatakan selama 49 tahun beroperasi, LTHM berjalan dengan baik. Hal ini tak terlepas dari konstribusi dan perhatian pemerintah. Akan tetapi, persoalan yang sama tampaknya dihadapi baik oleh Indonesia ataupun Malaysia yaitu masalah kuota. Di Malaysia, tahun 2011 para pendaftar haji yang masuk daftar tunggu (waitinglist) mencapai 700 ribu jamaah. Padahal, kuota haji untuk Malaysia per tahunnya sebanyak 26 ribu orang. “Ini artinya daftar tunggu mencapai 26 tahun,” kata dia.(ant/es)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: