Beranda > Berita > Pergi Haji di Malaysia Harus Menunggu 26 Tahun

Pergi Haji di Malaysia Harus Menunggu 26 Tahun

Jakarta (Pinmas)–Calon jemaah haji Indonesia harus bersyukur dibanding negara tetangga Malaysia. Di negeri jiran ini umat Muslim harus menunggu 26 tahun untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Sedangkan daftar tunggu haji di Indonesia paling lama 11 tahun.

“Dalam hal kuota haji Malaysia dengan Indonesia punya masalah yang sama. Kuota haji Malaysia 26 ribu orang, dengan pendaftar 700 ribu orang, maka daftar tunggu haji di Malaysia 26 tahun,” kata Dato` Syed Saleh Abdul Rahman Senior General Manager, Lembaga Tabung Haji Malaysia (LTHM) saat silaturahmi dengan Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Slamet Riyanto, di Jakarta, Kamis sore (24/3).

Dato` Syed Saleh Syed Abdul Rahman, mengemukakan LTHM sangat efektif memberikan kemudahan bagi warga Muslim Malaysia. Terutama bagi mereka yang hendak pergi haji. Sebab, LTHM merupakan badan investasi bagi tiap Muslim Malaysia. Mekanisme investasi yang digunakan, tiap Muslim membuka account tabungan di LTHM. “Bagi mereka yang hendak berhaji, wajib dan tinggal mendaftar melalui LTHM,” kata dia

Dato mengatakan dari hasil keuntungan investasi yang tiap tahunnya mencapai 600 juta US Dollar (5. 259 000.000.000 triliun rupiah/ dengan kurs 1 US dollar = Rp 8.765), LTHM memberikan subsidi kepada calon jamaah haji separuh dari BPIH yang wajib dibayar mereka yaitu 9980 ringgit atau kurang lebih senilai Rp 29.940.000. “Sebagian saja (subsidi dari hasil investasi LTHM), sebagian dibayar oleh
jamaah,”kata dia.

Abdul Rahman Saleh mengatakan, silaturahmi dengan Dirjen PHU ini dalam rangka perkenalan sebagai pengurus baru lembaga yang sudah berdiri 49 tahun ini, juga membicarakan pengalaman masing-masing mengenai penyelenggaraan ibadah haji kedua negara. “Kami punya prinsip yang sama bagaimana meningkatkan pelayanan dan perbaikan bagi jemaah haji sehingga mereka peroleh haji mabrur,” ujarnya.

Sementara Dirjen PHU Slamet Riyanto mengatakan, penyelenggaraan haji Indonesia dengan Malaysia memilki perbedaan, karena di Indonesia bukan dikelola oleh lembaga tabungan. “Prinsip kami sama, memberi pelayanan dan jemaah haji bisa dilindungi. Namun aturannya beda.”

Selain itu juga ada perbedaan kedua negara ini dalam penetapan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH). “Di Malaysia, tidak melalui pembahasan dengan parlemen. Tapi langsung diputuskan oleh kerajaan,” jelas Slamet didampingi pejabat eselon II di Ditjen PHU.

Seperti diketahui, sistem pembagian kuota tetap berdasarkan kesepakatan OKI (Organisasi Konferensi Islam) tetap menggunakan rumus 1/1000 dari penduduk muslim. Jika sesuai sensus penduduk Indonesia berjumlah 235 juta, berarti kita mendapat kuota haji sebanyak 235 ribu orang. “Kita telah minta Arab Saudi supaya kuota haji tahun ini disesuaikan,” kata Slamet. Adapun kuota haji Indonesia tahun 2010 sebanyak 221 ribu orang setelah mendapat tambahan 10 ribu.

Namun demikian daftar tunggu di masing-masing propinsi tidak sama. Beberapa propinsi termasuk dalam daftar tunggu jemaah haji diatas 7 tahun sampai 11 tahun, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. (ks)

Kategori:Berita Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: