Beranda > Umum > KETIDAKADILAN DALAM SEGENGGAM HP

KETIDAKADILAN DALAM SEGENGGAM HP

 

Perlindungan atas hak-hak konsumen di negara kita masih relatif renda, walaupun Lembaga Konsumen sudah lama ada. Pelayanan terhadap konsumen pun belun terstandardisasi dengan baik. Selain itu ruang lingkup perlindungan seakan-akan hanya soal makanan. Pasalnya sebagai negara muslim terbesar, perlindungan yang utama lebih terfokus pada halal-tidaknya kandungan pangan atau minuman.

Padahal Islam mengariskan secara tegas tentang konsep perlindungan konsumen yang meliputi seluruh aspek produksi, apalagi yang konsumsi rakyat banyak. Sementara kita tidak menyadari bahwa dalam sebuah handphone (HP) yang kita genggam, terdapat hak-hak kita sebagai konsumen yang selama ini tampak diabaikan.

Tulisan ini memaparkan ketidak-adilan yang dilakukan oleh operator HP disertai dengan praktik-praktik yang tidak fair, yang sampai kini terus berlangsung. Oleh sebab itu diperlukan acuan ajaran Islam tentang hal ini, agar konsumen memperoleh hak-haknya. Bila konsumen memperoleh hak secara penuh dan terlindungi, niscaya produsen juga akan memperoleh keberkahan dan simpati atas keuntungan yang mereka peroleh. Walau prinsip perusahaan mengejar keuntungan sebesar-besarnya, agaknya keuntungan yang diperoleh dengan memberikan hak konsumen dan tidak merugikan mereka, akan berdampak pada kemudahan mereka mempertahankan pelanggan/kesetiaan konsumen.

Ketidak-adilan Pulsa
Ingatkah anda pada tahun-tahun pertama beredarnya HP harganya yang membubung, demikian pula pulsa yang harus dibayar. Konsumen berfikir dua kali untuk membeli HP karena beban biaya yang tinggi, terkena rooming, pulsa membengkak tak karuan dan sebagainya.
Kini lebih 15 tahun era seluler di Indonesia, situasi itu berbalik 180 derajat. Harga HP sekarang tersedia dari harga maksimal Rp 10 juta, sampai harga Rp 300.000. Demikian pula pulsa yang digunakan, bila dulu voucher tersedia dengan harga Rp 100.000, kini malah tersedia pulsa dengan harga Rp 5.000.

Selain itu, pulsa juga semakin murah. Malah ada yang mengiklankan gratis SMS, gratis bicara 24 jam, dan sebagainya. Semua itu, dianggap insentif saja oleh konsumen, karena toh pilihan begitu banyak. Padahal dari sisi hak konsumen, masih banyak praktek-praktek bisnis seluler di tanah air, bahkan mungkin di dunia yang diabaikan oleh perusahaan operator seluler.

Ada beberapa contoh awal ketidak-adilan itu. Pertama adalah pembatasan masa pakai pulsa dan sim card. Agaknya kini konsumen perlu mendesak operator HP agar menghapus masa tenggat pulsa/sim card tersebut karena tidak beradab. Prakeik dagang apapun tidak ada yang memberi batas waktu pemakaian barang/jasa yang telah dibeli dengan sah oleh konsumen.

Ingatkah bila anda membeli bensin atau gas untuk memasak. Tidak satupun pembatasan bahwa setiap 3 kg gas seharga Rp 16.000 itu harus habis dalam tempo 20 hari misalnya. Walau satu keluarga menghabiskan gas tersebut dalam tempo 10 atau 5 hari saja. Bayangkan bila pembatasan diberlakukan. Padahal konsumen berhak menggunakan apakah habis dalam tempo 2, 3 hari, 1 minggu atau sebulan lebih sekalipun.

Kita tahu, tidak mungkin memaksa seseorang menghabiskan pulsa yang sudah menjadi haknya, dengan peraturan yang sama, karena kebutuhan setiap orang berbeda-beda. Itulah sebabnya masyarakat bisa dan penting untuk menuntut penghapusan batas waktu berlaku pulsa tersebut karena tidak adil. Di sini operator pulsa menghisap secara haram hak konsumen bila sisa pulsa yang ada tiba-tiba hangus karena batas waktu itu. Hingga kini belum ada yang mencoba menghitung berapa miliar per bulan pulsa yang hangus itu. Bila kebijakan tersebut tidak diubah berarti operator seluler telah zholim kepada konsumen yang selama ini memberi rezeki tak putus-putusnya kepada mereka.

Kedua, insentif/ fasilitas diskon yang menjebak dilakukan oleh operator seluler. Mereka membatasi bahwa fasilitas bebas pulsa misalnya, ternyata hanya pada waktu dan wilayah tertentu. Ternyata hal itu terkait dengan upaya perusahaan itu mengembangkan pelanggan. Jadi mereka mereka melakukan penetrasi pasar, karena tingginya persaingan pada segmen yang sama. Di sini seolah-olah operator seluler menguntungkan konsumen. Padahal tidak lain dan tidak bukan hanya kiat mencari untung dengan memperbanyak pelanggan.

Ketiga adalah iklan yang tidak sesuai dengan kenyataan, karena banyak konsumen yang penuh harap menelpon dengan murah, ternyata bila dikalkulasi tetap membayar mahal. Beberapa konsumen sempat mengeluhkan hal itu dan dirilis di beberapa surat pembaca koran.

Keempat, sejauh ini operator seluler lepas tanggung jawab terhadap penggunaan nomor kartu tertentu untuk kejahatan terutama penipuan dengan iming-iming hadiah. Bisa saja operator tersebut berlagak cuek, karena ada keterbatasan mereka melindungi konsumen yang sedemikian besar.

Menurut hemat kita, hal itu tidak bisa menjadi pembenaran, karena perusahan justru harus bertangung-jawab mengingatkan konsumennya atas praktek penipuan tersebu, padahal bisa saja operator minta bantuan/kerjasama dengan Polisi untuk melacak kejahatanini.Bila itu dilakukan dengan sistematis dan teratur, maka jumlah kerugian akibat penipuan bisa ditekan.

Bisa pula seblaiknya, dimana operator seluler dapat mengembangan program CSR (community social responcibility) untuk membangun kesadaran konsumen dari ancaman penipuan melalui HP. Yang selama ini terjadi, operator seluler baru sebatas menjawab keluhan dan kritik konsumen melalui surat pembaca di media massa. Upaya mengantisipasi agar tidak jatuh korban, sangat minim bahkan tidak pernah dilakukan.

Alqur�an (Surat 4: 29) mengingatkan: �Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu..� Semoga menjadi renungan bagi kita semua. ***

Oleh : Farid N. Arief

Kategori:Umum Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: