Beranda > Umum > PERJALANAN KE BAITULLAH

PERJALANAN KE BAITULLAH

(Sebuah Refleksi)

Saat ini jemaah haji dari berbagai penjuru dunia tengah berkumpul di tanah suci dalam rangka menunaikan ibadah haji. Puncak pelaksanaan haji berlangsung ketika wukuf di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah. Rasulullah SAW menyatakan, �Haji itu (puncaknya) di Arafah.�
Kaum muslimin yang tidak berkesempatan hadir di tanah suci pada hari-hari yang dimuliakan tersebut atau sudah pernah menunaikan haji, dianjurkan untuk serentak merayakan Idul Adha di negeri masing-masing serta menyembelih hewan qurban bagi yang memiliki kelapangan rezeki.
Tidak ada agama maupun kekuasaan politik dunia yang bisa mengumpulkan berjuta manusia dari berbagai bangsa dan negara di satu tempat dalam waktu yang sama kecuali Islam dengan ibadah haji. Menunaikan haji sebagai salah satu rukun Islam yang lima sering disebut memenuhi panggilan Baitullah atau panggilan Nabi Ibrahim. Syariat haji yang kita tunaikan sekarang ini memang memiliki akar sejarah-teologis yang erat dengan wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Ibrahim alaihi salam.
Perjalanan haji tidak dapat disamakan dengan perjalanan ziarah atau wisata mengunjungi situs-situs bersejarah. Haji merupakan ibadah fisik dan rohani yang memiliki pola dan parameter yang baku. Oleh karena itu, ibadah haji mensyaratkan rukun dan kondisi tertentu bagi setiap muslim yang menjalankannya.
Bukan Tradisi Arab
Hal yang perlu dicatat bahwa ibadah haji bukanlah tradisi Arab yang dilanjutkan oleh umat Nabi Muhammad. Haji bukanlah sekadar prosesi ritual yang dilakukan tanpa makna dan tujuan. Perjalanan seorang jemaah haji ke Baitullah haruslah membawa imannya. Haji adalah syariat agama yang diwahyukan Allah Maha Pencipta kepada umat manusia melalui para Nabi dan Rasul yang diutus-Nya dengan membawa risalah Islam yang benar.
Kedudukan dan kewajiban haji dalam Islam tercantum dalam Al Quranul Karim: �Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah (sebagian daripadanya) dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.� (QS [22] Al-Hajj: 27-28).
Pada ayat lain, â��…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta.â�� (QS [3] Ali â��Imran: 97)
Pada waktu menjelaskan hukum wajib haji, Rasulullah SAW bersabda, �Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta�ala telah mewajibkan kepada kalian ibadah haji!� Maka berdirilah Al-Aqra� bin Habis seraya mengatakan: �Apakah haji itu wajib ditunaikan setiap tahun, ya Rasulullah?� Maka beliau SAW pun menjawab: �Kalau aku katakan, ya, niscaya akan menjadi kewajiban setiap tahun. Dan bila diwajibkan setiap tahun, niscaya kalian tidak akan mampu untuk menunaikannya. Kewajiban haji itu hanya sekali (seumur hidup). Barangsiapa menunaikannya lebih dari sekali, maka dia telah bertathawwu� (melakukan perbuatan sunnah).� [HR. Abu Dawud, An-Nasa`i, Ad-Darimi, Ad-Daraquthni, Al-Hakim dan Ahmad).
Dengan demikian, ibadah haji adalah kewajiban sekali dalam seumur hidup bagi muslim yang mampu untuk melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Rukun Islam kelima ini melatih jiwa manusia untuk semakin dekat dengan Khaliq (Maha Pencipta) dan merasakan kesamaan derajat di hadapan-Nya. Ibadah haji tidak sah dilaksanakan di tempat yang berbeda atau di Mekkah tapi di luar waktu yang telah ditentukan dalam Al Quran dan Sunnah Nabi SAW.
Sungguh tepat sekali Mohammad Natsir mengatakan bahwa menunaikan ibadah haji merupakan cita-cita hidup setiap muslim yang ingin mereka capai sebelum berpulang ke rahmatullah. Bahkan Rasulullah SAW mengatakan bahwa harta yang dibelanjakan untuk perjalanan ke Baitullah mendapat ganjaran dari Allah sebagaimana ganjaran infak fisabilillah.
Panggilan haji disambut dengan sambutan talbiyah yang terjemahannya, �Inilah kami, ya Tuhan kami. Inilah kami memenuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah bagi-Mu, dan Engkaulah yang menguasai segala sesuatu. Tidak ada yang menyekutui-Mu!�
Dalam Hadis Qudsi, Allah SWT berfirman, �Sesungguhnya seorang hamba yang Aku sehatkan badannya, dan Aku luaskan rezekinya, lalu dalam masa lima tahun tidak datang kepada-Ku, sungguh ia akan kecewa dan rugi.� (Hadits Qudsi, Riwayat Baihaqi dan Ibnu Hibban).
Bagaimana jihad dan pengorbanan orang-orang dahulu yang dengan ikhlas mematuhi perintah Allah dilukiskan dengan bahasa yang sangat indah oleh Prof. Dr. Syaikh Mahmoud Syaltout, mantan Grand Syeikh Universitas Al-Azhar Cairo dalam buku Al Islam, Aqidah wa Syariâ��ah (terjemahan Prof. Bustami A. Gani, dkk) sebagai berikut, â��…..dengan meninggalkan sanak keluarga, harta benda dan tanah airnya, jemaah hají itu rela menahan segala macam penderitaan dalam perjalanan dan segala kesulitannya, demi berbakti kepada Tuhannya. Dia melakukan yang demikian bukanlah dengan tujuan mencari keuntungan materi untuk memuaskan hawa nafsunya, tetapi semata-mata karena hendak berdiri sebagai hamba di hadapan Ilahi, bertaubat atas segala kesalahan dan kealpaannya di hadapan Kaâ��bah. Apabila sudah selesai tugas haji, maka hatinya tenteram, dan dengan hati puas dia kembali ke tanah airnya, membawa hati yang thumaâ��ninah, semangat yang kuat, dengan tekad yang bulat untuk memperbaiki dirinya dan umatnya.â��
Selama menunaikan haji, para �tamu Allah� diharamkan bertengkar, berperang, menumpahkan darah, dan bahkan dilarang merusak tanaman yang terdapat di tanah haramain itu.
Rasulullah SAW bersabda: �Hai semua manusia, Allah telah mewajibkan atasmu untuk haji. Maka berhajilah kalian. Dan siapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata atau berbuat keji dan fasiq, ia akan keluar dari semua dosa-dosanya bagaikan ia pada saat dilahirkan oleh ibunya. Dan melakukan ibadah umrah hingga umrah di tahun depan, menjadi penebus dosa yang terjadi di antara kedua umrah itu. Dan haji yang mabrur, tidak ada balasannya kecuali surga.� (HR. Bukhari, Muslim).
Hikmah Ibadah Haji
Ibadah haji mengandung banyak hikmah dan manfaat positif terhadap kehidupan muslim. Sebagai contoh; pakaian ihram berwarna putih yang melekat pada badan setiap jemaah haji melambangkan persamaan dan kesamarataan nilai martabat dan derajat manusia sebagai makhluk Allah. Setiap manusia, apa pun kedudukan dan simbol yang dibanggakannya, akan kembali ke hadirat Ilahi dengan dibungkus kain kafan warna putih tanpa jahitan. Ini merupakan sebuah pendidikan mengenai martabat asasi kemanusiaan yang paling berkesan bagi umat manusia.
Sementara itu, kontrol perilaku selama berada di tanah suci hendaknya diharapkan bisa menumbuhkan baru terhadap peningkatan kualitas pribadi muslim yang diharapkan berdampak lebih luas terhadap peningkatan kualitas masyarakat Islam. Jangan seseorang pergi dan pulang haji tanpa membawa perubahan apa-apa bagi diri dan lingkungannya.
Penghayatan terhadap makna dan nilai-nilai ibadah haji diharapkan menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, persatuan, solidaritas, dan kerjasama antar negara-negara Islam tanpa memandang sistem politik dan pemerintahannya. Umat Islam yang digambarkan oleh Rasulullah bagaikan bangunan yang bagian-bagiannya saling menopang dan memperkuat satu sama lain hendaknya dapat diwujudkan dalam kenyataan hidup muslim dari masa ke masa.
Ibadah haji menuntut pengorbanan yang ikhlas, meliputi pengorbanan biaya yang tidak sedikit, pengorbanan waktu, tenaga bahkan mengorbankan kesenangan dan kenyamanan. Kesediaan untuk berkorban harus tetap terpelihara setelah menunaikan haji meski dalam bentuk dan konteks yang lain. Berkorban untuk Tuhan, agama-Nya, kebenaran-Nya dan keadilan-Nya adalah ketetapan yang wajib bagi seorang muslim. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia kecuali pengorbanan untuk hawa nafsu dan kepentingan diri sendiri.
Selain itu ibadah haji merupakan syiar Islam paling besar sepanjang masa. Untuk itu para haji seharusnya bisa berperan dalam mewujudkan dan memelihara persatuan umat. Yakni persatuan yang melampaui batas-batas kedaerahan, etnis, organisasi, partai politik, dan sebagainya.
Ibadah adalah �mahkota ibadah� dalam Islam, sehingga sudah seharusnya setiap jemaah haji berupaya untuk memperoleh haji yang mabrur. Haji mabrur tiada balasannya kecuali surga. Haji mabrur sejatinya adalah haji yang membawa perubahan diri menjadi lebih baik dibanding sebelumnya dalam berbagai hal. Oleh karena itu, jangan pernah berdalih ibadah haji untuk menghapus dosa secara berkala sehingga tidak mengapa mengulang dosa karena bisa dihapus lagi dengan ibadah haji atau umrah.
Melaksanakan ibadah haji bagi seorang muslim seharusnya dijadikan momentum untuk berubah ke arah yang baik, minimal untuk diri sendiri dan lebih baik kalau bisa menjadi agent of change terhadap perubahan kondisi masyarakat, bangsa dan negara yang sedang terpuruk ini sesuai dengan kapasitas masing-masing. Tidak hanya rakyat yang dituntut untuk berubah, tetapi para pemimpin pun harus memberikan contoh.
Menarik sekali makna yang tersirat di balik ungkapan Ali Shariati tentang tugas para haji setelah kembali ke negeri masing-masing, �Wahai Haji! Jadikanlah negerimu sebuah negeri yang aman karena engkau telah pulang dari tanah haram; Jadikanlah zamanmu zaman yang mulia seolah-olah engkau tetap berada dalam keadaan Ihram; Jadikanlah dunia ini seakan menjadi masjid suci karena engkau telah pulang dari Masjid Al Haram; karena seharusnya seluruh permukaan bumi merupakan masjid Allah, meski yang kau saksikan sering tidak demikian!�
Selamat menunaikan ibadah haji kepada seluruh jemaah haji Indonesia. Semoga memperoleh haji yang mabrur dan bisa menjaga kemabruran haji sampai datang saatnya menghadap Allah SWT kelak.

M. Fuad Nasar, Wakil Sekretaris Umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS)

Kategori:Umum Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: